SK Honor Palsu Selimuti Kandepag Kutacane
Kutacane, (Analisa). Terkait pengusulan data base beberapa bulan lalu, pihak Kantor Departemen Agama (Kandepag) Kutacane disinyalir kuat melakukan penggandaan SK Tenaga honorer dan manarik uang pelicin dari pihak yang hendak mendapatkan SK palsu tersebut.
Ironis lagi, dilaporkan ada oknum diKandepag disinyalir kuat telah melakukan pemalsuan tanda tangan Abdul Rahman (mantan Kakandepag Kutacane) untuk dibubuhkan pada SK palsu tersebut. Akibatnya Abdul Rahman yang merasa telah dikibuli dan dirugikan, segera membuat pengaduan secara resmi ke Polres Aceh Tenggara.
Abdul Rahman saat dikonfirmasi Analisa Selasa (17/5) mengaku dirinya telah menyerahkan kasus ini kepada kepolisian sejak tahun 2010 lalu, yakni terkait dengan dugaan pemalsuan tanda tangan oleh oknum kandepag setempat.
Dijelaskan, pada saat dirinya menjabat sebagai Kakandepag Kutacane hanya sekitar 64 tenaga honorer yang terdaftar, namun pasca pergantian pimpinan jumlah tenaga honorer yang mengajukan berkas untuk pengusulan data base guna diangkat menjadi CPNS formasi 2011 membludak. menjadi 300 orang.
Jelas suatu hal yang tak wajar dirasakan Abdul Rahman ketika ada oknum Kandepag setempat yang meminta dirinya menandatangani sekitar 30 SK tenaga honorer yang terhitung sejak tahun 2005 ke atas.
"Sepengetahuan saya untuk tenaga honorer yang katagori tercecer pada masa kepemimpinan saya hanya sekitar 64 orang, sehingga berkas yang disodorkan oknum itu hanya sekitar 64 SK saya tanda tangan. Tetapi anehnya, semua berkas sudah dibawa keBanda Aceh baru diminta tanda tangan saya," jelas Abdul seraya berharap No Laporan ke Polres Agara STPLP/782/xi/2010/NAD/Res/Agra pada tanggal 4 November 2010 secepatnya terselesaikan secara hukum.
Kakandepag Aceh Tenggara yang baru, Drs Jauharudin ketika dikonfirmasi mengatakan, dirinya hanya melanjutkan usulan dari bawah, dengan kata lain berkas diterima setelah dinyatakan lengkap sebelum diusulkan ke Kakanwildepag Banda Aceh.
"Masalah kutipan kepada pemilik SK yang berjumlah sekitar 300 orang tersebut saya kurang tahu, yang jelas berkas kita terima telah lengkap untuk diusulkan," kata Jauharudin singkat melalui telepon selulernya.
Jumat, 05 Agustus 2011
Seputar Agara
Bupati dan Sekda Agara dipolisikan
BANDA ACEH - Bupati Aceh Tenggara (Agara) Hasanuddin Beru dan Sekda setempat, Hasanuddin Darjo, dilaporkan Ketua Badan Kehormatan DPRK Agara, Tgk Affan Husni JS, ke Polda Aceh. Keduanya dilapor atas dugaan memalsukan dokumen Qanun APBK 2011 Agara dengan menghilangkan dana luncuran sebesar Rp59 miliar, tapi dana itu tetap digunakan. Kemarin, Affan untuk ketiga kalinya dipanggil ke Polda Aceh. Namun, dalam pemeriksaan sekitar dua jam secara tertutup itu, ia mengatakan tidak banyak dimintai keterangan, melainkan hanya memperbaiki data laporannya terhadap Bupati dan Sekda Agara yang telah dia ajukan beberapa hari lalu itu.
“Inti laporan saya karena dalam Qanun APBK 2011 yang disahkan DPRK Agara, tercantum dana luncuran 59 miliar untuk pendidikan, kimpraswil, dan lain-lain. Dalam Qanun APBK 2011 Agara yang diputuskan eksekutif, dana luncuran itu tak ada, tapi pemakaiannya justru ada. Hal itu dibuktikan lewat SP2D. Karena itu, Bupati dan Sekda kita laporkan,” kata Affan hari ini.
Menurut Affan, perbuatan itu dikhawatirkan merugikan negara karena memanfaatkan dana di luar Qanun APBK yang telah diputuskan. Bahkan, jika sudah ada indikasi merugikan negara, Affan mengatakan akan melaporkan hal itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Sedangkan yang kita laporkan ke polisi sekarang hanya kasus pemalsuan dokumen,” ujarnya.
Affan mengaku tak tahu apakah Bupati dan Sekda setempat sudah mengetahui apa yang dia laporkan ke Polda. Tapi, menurutnya, sejumlah saksi sudah dimintai keterangan. “Sedangkan saya sendiri juga akan dipanggil kembali untuk dimintai keterangan,” kata Affan. Kemarin, Affan didampingi aktivis LSM antikorupsi di Aceh Tenggara, yaitu Direktur Aceh Alas Independen (AAI), Ali Amran. Sedangkan Bupati Hasanuddin Beru dan Sekda Hasanuddin Darjo hingga malam tadi belum berhasil dihubungi. Keduanya juga belum menjawab sms Serambi tentang hal itu. Saat dihubungi, Bupati Agara tak mengangkat hp-nya, sedangkan hp Sekda tidak aktif.
BANDA ACEH - Bupati Aceh Tenggara (Agara) Hasanuddin Beru dan Sekda setempat, Hasanuddin Darjo, dilaporkan Ketua Badan Kehormatan DPRK Agara, Tgk Affan Husni JS, ke Polda Aceh. Keduanya dilapor atas dugaan memalsukan dokumen Qanun APBK 2011 Agara dengan menghilangkan dana luncuran sebesar Rp59 miliar, tapi dana itu tetap digunakan. Kemarin, Affan untuk ketiga kalinya dipanggil ke Polda Aceh. Namun, dalam pemeriksaan sekitar dua jam secara tertutup itu, ia mengatakan tidak banyak dimintai keterangan, melainkan hanya memperbaiki data laporannya terhadap Bupati dan Sekda Agara yang telah dia ajukan beberapa hari lalu itu.
“Inti laporan saya karena dalam Qanun APBK 2011 yang disahkan DPRK Agara, tercantum dana luncuran 59 miliar untuk pendidikan, kimpraswil, dan lain-lain. Dalam Qanun APBK 2011 Agara yang diputuskan eksekutif, dana luncuran itu tak ada, tapi pemakaiannya justru ada. Hal itu dibuktikan lewat SP2D. Karena itu, Bupati dan Sekda kita laporkan,” kata Affan hari ini.
Menurut Affan, perbuatan itu dikhawatirkan merugikan negara karena memanfaatkan dana di luar Qanun APBK yang telah diputuskan. Bahkan, jika sudah ada indikasi merugikan negara, Affan mengatakan akan melaporkan hal itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Sedangkan yang kita laporkan ke polisi sekarang hanya kasus pemalsuan dokumen,” ujarnya.
Affan mengaku tak tahu apakah Bupati dan Sekda setempat sudah mengetahui apa yang dia laporkan ke Polda. Tapi, menurutnya, sejumlah saksi sudah dimintai keterangan. “Sedangkan saya sendiri juga akan dipanggil kembali untuk dimintai keterangan,” kata Affan. Kemarin, Affan didampingi aktivis LSM antikorupsi di Aceh Tenggara, yaitu Direktur Aceh Alas Independen (AAI), Ali Amran. Sedangkan Bupati Hasanuddin Beru dan Sekda Hasanuddin Darjo hingga malam tadi belum berhasil dihubungi. Keduanya juga belum menjawab sms Serambi tentang hal itu. Saat dihubungi, Bupati Agara tak mengangkat hp-nya, sedangkan hp Sekda tidak aktif.
Sejarah
Sejarah yang tercecer dari Pejuang Alas (benteng kuta reh) Aceh Tenggara
06 Mar
Kiras Bangun lahir di Batukarang sekitar tahun 1852. penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik. Masyarakat menamakan beliau Garamata yang bermakna “Mata Merah”. Masa mudanya ia sering pergi dari satu kampung ke kampung lain dalam rangkaian kunjungan kekeluargaan untuk terwujudnya ikatan kekerabatan warga Merga Silima serta terpeliharanya norma-norma adat budaya Karo dengan baik.
Pemerintahan yang ada pada masa itu disebut pemerintahan Urung dan Kampung yang berdiri sendiri/otonomi. Jalannya roda pemerintahan dititikberatkan pada norma-norma adat. Tidak jarang pula terjadi sengketa antar Urung dan antar Kampung dengan motif berbagai macam persoalan.
Pihak-pihak yang bertikai, acap kali mengundang Garamata turut memecahkan persoalan. Dengan sikap jujur, berani dan bertanggung jawab Garamata bertindak tegas tetapi arif dan bijaksana, berlandaskan semboyan “Rakut Sitelu” (Kalimbubu, Sembuyak dan Anakberu) yang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bertindak beliau selalu berpegang teguh pada prinsip membenarkan yang benar, tidak berpihak, menyebabkan berbagai sengketa dapat diredakan secara damai yang memuaskan semua pihak.
Simpati masyarakat tidak terbatas dikawasan Tanaha Karo saja, melainkan meluas sampai ke daerah tetangga seperti: Tanah Pinem Dairi, Singkil Aceh Selatan, Alas Gayo Aceh Tenggara, Langkat dan Deli Serdang. Hubungan dengan daerah–daerah tersebut terpelihara serasi, terlebih-lebih kegigihan perlawanan rakyat Aceh Selatan dan Aceh Tenggara terhadap penjajah Belanda, dikagumi dan dipantau secara berlanjut.
Latar Belakang Ekspansi Belanda ke Tanah Karo
Pada tahun 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu di Langkat dan sekitar Binjai membuka perkebunan tembakau dan karet. Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Tanah Karo dengan alasan tanah di sekitar Binjai telah habis ditanami.
Tanah Karo telah diketahui Belanda karena kerbau sebagai penarik kereta keperluan perkebunan diperoleh dari Tanah Karo. Disamping itu Binjai pada waktu itu telah menjadi kota yang didiami tuan-tuan kebun Belanda dimana banyak didatangi orang-orang Karo dari Karo Tinggi dan ada diantaranya yang bekerja sebagai pekerja kebun maupun mandor.
Kepopuleran Kiras Banguna/Garamata telah diketahui oleh Belanda dari penduduk Langkat dan lebih jelas lagi dari Nimbang Bangun yang masih ada ikatan keluarga dengannya. Untuk itu timbul keinginan Belanda menjalin persahabatan dengan Garamata agar dibenarkan memasuki Tanah Karo guna membuka usaha perkebunan. Persetujuan Garamata atas kedatangan Belanda akan diberi imbalan uang, pangkat dan senjata.
Tawaran Belanda demikian mengandung maksud-maksud tersembunyi yang sukar ditebak apalagi Tanah Karo tidaklah cukup luas untuk jadi perkebunan.
Timbulnya Permusuhan dengan Belanda
Utusan Belanda Nimbang Bangun telah bolak-balik dari Binjai ke Tanah Karo namun keinginan Belanda memasuki Tanah Karo tetap ditolak. Keputusan ini diambil setelah dilakukan musyawarah dengan raja-raja Tokoh Karo sebagai berikut:
1. Keinginan Belanda untuk bersahabat dengan rakyat Karo dapat diterima asal saling menghargai dan menghormati.
2. Keinginan Belanda untuk memasuki Tanah Karo ditolak.
3. Belanda tidak perlu campur dalam soal pemerintahan di Tanah Karo sebab rakyat Karo selama ini sudah dapat mengatur diri sendiri menurut peradatannya sendiri.
Keinginan Belanda masuk Tanah Karo diwujudkan pada tahun 1902, dengan mengirim Guillaume bersama sejumlah serdadu Belanda sebagai pengawalnya ke Tanah Karo setelah sebelumnya mendapat izin dari salah seorang Kepala Urung lain.
Garamata memberikan beberapa kali peringatan untuk meninggalkan Tanah Karo tetapi Guillaume tidak mau berangkat. Kemudian Garamata bekerja sama dengan beberapa Urung berhasil mengusir Guillaume, setelah 3 bulan bermukim di Kabanjahe.
Sejak pengusiran itu timbullah puncak permusuhan dengan Belanda.
Menggalang Kekuatan
Perkembangan situasi yang sudah menegang disampaikan kepada tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan sebagai daerah tetangga yang sehaluan. Kemudian Garamata menugaskan beberapa orang untuk mengetahui informasi tentang keinginan Belanda ke Tanah Karo dengan dalih membuka perkebunan, yang merupakan tindakan memaksakan kehendaknya. Dari tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan ini diperoleh jawaban akan membantu Garamata.
Situasi yang berkembang di Tanah Karo sudah semakin memanas semenjak Guillaume dan sejumlah pengawalnya bersenjata lengkap menduduki Kabanjahe. Garamata dan pengikutnya berupaya untuk menghimpun segenap kekuatan. Pertemuan Urung/Rapat pimpinan merupakan satu-satunya sarana yang paling mudah untuk menyampaikan berbagai macam situasi kepada segenap tokoh Urung/Pasukan Urung serta melaksanakan rencana-rencana.
Melalui pertemuan Urung, Garamata dalam pengarahannya membentuk pasukan Urung dan mengadakan benteng pertahanan di tiap-tiap Urung. Persenjataan pasukan Urung terdiri dari pedang, parang, tombak, dan senapan (dalam jumlah terbatas) yang tersedia di Urung masing-masing. Dengan demikian upaya menghimpun kekuatan, mengobarkan semangat perlawanan gigih dan bersatu sembari kewaspadaan tidak dilengahkan merupakan tekad Garamata dan pengikut-pengikutnya yang setia.
Kenyataan membuktikan bahwa pertemuan Urung di Tiga Jeraya mampu mengerahkan ribuan orang pria dan wanita mengangkat “Sumpah setia melawan Belanda” yang pengucapannya dilakukan secara serempak yang menggemuruh.
Pertemuan Urung dilakukan sebanyak 6 kali dan yang terbesar pertemuan Jeraya Surbakti.
Intervensi Belanda di Seberaya Membangkitkan Kemarahan Garamata
Pada tahun 1904 serdadu ekspedisi Belanda datang dari Aceh melalui Gayo Alas dan Dairi menuju Medan. Dalam perjalanannya ke Medan melalui Tanah Karo, pasukan tersebut memasuki kampung Seberaya dimana saat itu terjadi perang saudara. Dalam perjalanan pasukan Belanda mampir di kampung Sukajulu terjadi pertempuran dengan pasukan Simbisa Urung dan pasukan Urung tewas 20 orang.
Perisitiwa berdarah di beberapa tempat merupakan petunjuk bagi tokoh Karo bahwa Belanda telah mulai menginjak-injak kedaulatan rakyat Karo. Kecurigaan Garamata demikian terbukti bahwa maksud kedatangan Belanda ke Tanah Karo adalah menjajah seperti di Langkat. Garamata memastikan bahwa perang pasti terjadi dan karena itu menugaskan beberapa orang ke Alas dan Gayo memperoleh bantuan sebagaimana disepakati setahun lalu.
Batukarang Jatuh
Karena kedudukan musuh di Kabanjahe maka disusun benteng pertahanan terdepan, yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu (Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.
Ultimatum Garamata kepada Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan mendatangkan marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu pengawalnya sudah diperkuat lagi dari sebelumnya.
Patroli-patroli Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil locok dan senapang petuem yang terbatas tidak mendukung untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih mutakhir sedangkan di pihak Simbisa/Urung mempunyai senjata yang kalah jauh dari perlengkapan lawan.
Satu demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan LIngga Julu, meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas tertembak. Sementara benteng pertahanan Kandibata yang dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang, (15/9/1904) dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.
Negeri sebagai tempat menyingkir Garamata dan pasukannya jadi sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting isitri Garamata menderita luka tembak sembari Garamata dan pasukannya menduduki Singgamanik dan sekitarnya.
Liren dan Sekitarnya Jadi Basis Perlawanan
Walaupun pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan.
Dijelaskan bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.
Sebagai daerah penyingkiran semua rencana diatur dari basis ini baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun mengganggu patroli-patroli Belanda yang secara rutin melewati Liren dan daerah sekitarnya.
Perang Gerillya
Garamata dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan motto: “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” (namo=lubuk, aras=arus air yang deras). Artinya sekarang kita kalah, besok kita menang.
Pada kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.
Dalam perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur bersembunyi dalam satu rumah.
Sementara itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari serangan Belanda.
Opportinuteits Beginsiel
Pendudukan Belanda atas Batukarang dengan mengerahkan sebanyak 200 orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat perlawanan walau tidak secara frontal.
Betapapun usaha yang diupayakan untuk menangkap tokoh-tokoh Urung terutama Garamata tidak berhasil sehingga semua rencana Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda pemerintahan selalu terganggu/tidak dapat dijalankan. Maka dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.
Mengingat banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan dan untuk menghindari rakyat korban lebih banyak maka penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel diterima dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan sehingga pada suatu saat dapat bangkit kembali mengusir Belanda.
Ternyata Belanda tidak mentaati tawaran sendiri karena Garamata tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu tempat di perladangan Riung selama 4 tahun.
Sumber : http://gratis45.com/berita/garamata.htm
06 Mar
Kiras Bangun lahir di Batukarang sekitar tahun 1852. penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik. Masyarakat menamakan beliau Garamata yang bermakna “Mata Merah”. Masa mudanya ia sering pergi dari satu kampung ke kampung lain dalam rangkaian kunjungan kekeluargaan untuk terwujudnya ikatan kekerabatan warga Merga Silima serta terpeliharanya norma-norma adat budaya Karo dengan baik.
Pemerintahan yang ada pada masa itu disebut pemerintahan Urung dan Kampung yang berdiri sendiri/otonomi. Jalannya roda pemerintahan dititikberatkan pada norma-norma adat. Tidak jarang pula terjadi sengketa antar Urung dan antar Kampung dengan motif berbagai macam persoalan.
Pihak-pihak yang bertikai, acap kali mengundang Garamata turut memecahkan persoalan. Dengan sikap jujur, berani dan bertanggung jawab Garamata bertindak tegas tetapi arif dan bijaksana, berlandaskan semboyan “Rakut Sitelu” (Kalimbubu, Sembuyak dan Anakberu) yang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bertindak beliau selalu berpegang teguh pada prinsip membenarkan yang benar, tidak berpihak, menyebabkan berbagai sengketa dapat diredakan secara damai yang memuaskan semua pihak.
Simpati masyarakat tidak terbatas dikawasan Tanaha Karo saja, melainkan meluas sampai ke daerah tetangga seperti: Tanah Pinem Dairi, Singkil Aceh Selatan, Alas Gayo Aceh Tenggara, Langkat dan Deli Serdang. Hubungan dengan daerah–daerah tersebut terpelihara serasi, terlebih-lebih kegigihan perlawanan rakyat Aceh Selatan dan Aceh Tenggara terhadap penjajah Belanda, dikagumi dan dipantau secara berlanjut.
Latar Belakang Ekspansi Belanda ke Tanah Karo
Pada tahun 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu di Langkat dan sekitar Binjai membuka perkebunan tembakau dan karet. Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Tanah Karo dengan alasan tanah di sekitar Binjai telah habis ditanami.
Tanah Karo telah diketahui Belanda karena kerbau sebagai penarik kereta keperluan perkebunan diperoleh dari Tanah Karo. Disamping itu Binjai pada waktu itu telah menjadi kota yang didiami tuan-tuan kebun Belanda dimana banyak didatangi orang-orang Karo dari Karo Tinggi dan ada diantaranya yang bekerja sebagai pekerja kebun maupun mandor.
Kepopuleran Kiras Banguna/Garamata telah diketahui oleh Belanda dari penduduk Langkat dan lebih jelas lagi dari Nimbang Bangun yang masih ada ikatan keluarga dengannya. Untuk itu timbul keinginan Belanda menjalin persahabatan dengan Garamata agar dibenarkan memasuki Tanah Karo guna membuka usaha perkebunan. Persetujuan Garamata atas kedatangan Belanda akan diberi imbalan uang, pangkat dan senjata.
Tawaran Belanda demikian mengandung maksud-maksud tersembunyi yang sukar ditebak apalagi Tanah Karo tidaklah cukup luas untuk jadi perkebunan.
Timbulnya Permusuhan dengan Belanda
Utusan Belanda Nimbang Bangun telah bolak-balik dari Binjai ke Tanah Karo namun keinginan Belanda memasuki Tanah Karo tetap ditolak. Keputusan ini diambil setelah dilakukan musyawarah dengan raja-raja Tokoh Karo sebagai berikut:
1. Keinginan Belanda untuk bersahabat dengan rakyat Karo dapat diterima asal saling menghargai dan menghormati.
2. Keinginan Belanda untuk memasuki Tanah Karo ditolak.
3. Belanda tidak perlu campur dalam soal pemerintahan di Tanah Karo sebab rakyat Karo selama ini sudah dapat mengatur diri sendiri menurut peradatannya sendiri.
Keinginan Belanda masuk Tanah Karo diwujudkan pada tahun 1902, dengan mengirim Guillaume bersama sejumlah serdadu Belanda sebagai pengawalnya ke Tanah Karo setelah sebelumnya mendapat izin dari salah seorang Kepala Urung lain.
Garamata memberikan beberapa kali peringatan untuk meninggalkan Tanah Karo tetapi Guillaume tidak mau berangkat. Kemudian Garamata bekerja sama dengan beberapa Urung berhasil mengusir Guillaume, setelah 3 bulan bermukim di Kabanjahe.
Sejak pengusiran itu timbullah puncak permusuhan dengan Belanda.
Menggalang Kekuatan
Perkembangan situasi yang sudah menegang disampaikan kepada tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan sebagai daerah tetangga yang sehaluan. Kemudian Garamata menugaskan beberapa orang untuk mengetahui informasi tentang keinginan Belanda ke Tanah Karo dengan dalih membuka perkebunan, yang merupakan tindakan memaksakan kehendaknya. Dari tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan ini diperoleh jawaban akan membantu Garamata.
Situasi yang berkembang di Tanah Karo sudah semakin memanas semenjak Guillaume dan sejumlah pengawalnya bersenjata lengkap menduduki Kabanjahe. Garamata dan pengikutnya berupaya untuk menghimpun segenap kekuatan. Pertemuan Urung/Rapat pimpinan merupakan satu-satunya sarana yang paling mudah untuk menyampaikan berbagai macam situasi kepada segenap tokoh Urung/Pasukan Urung serta melaksanakan rencana-rencana.
Melalui pertemuan Urung, Garamata dalam pengarahannya membentuk pasukan Urung dan mengadakan benteng pertahanan di tiap-tiap Urung. Persenjataan pasukan Urung terdiri dari pedang, parang, tombak, dan senapan (dalam jumlah terbatas) yang tersedia di Urung masing-masing. Dengan demikian upaya menghimpun kekuatan, mengobarkan semangat perlawanan gigih dan bersatu sembari kewaspadaan tidak dilengahkan merupakan tekad Garamata dan pengikut-pengikutnya yang setia.
Kenyataan membuktikan bahwa pertemuan Urung di Tiga Jeraya mampu mengerahkan ribuan orang pria dan wanita mengangkat “Sumpah setia melawan Belanda” yang pengucapannya dilakukan secara serempak yang menggemuruh.
Pertemuan Urung dilakukan sebanyak 6 kali dan yang terbesar pertemuan Jeraya Surbakti.
Intervensi Belanda di Seberaya Membangkitkan Kemarahan Garamata
Pada tahun 1904 serdadu ekspedisi Belanda datang dari Aceh melalui Gayo Alas dan Dairi menuju Medan. Dalam perjalanannya ke Medan melalui Tanah Karo, pasukan tersebut memasuki kampung Seberaya dimana saat itu terjadi perang saudara. Dalam perjalanan pasukan Belanda mampir di kampung Sukajulu terjadi pertempuran dengan pasukan Simbisa Urung dan pasukan Urung tewas 20 orang.
Perisitiwa berdarah di beberapa tempat merupakan petunjuk bagi tokoh Karo bahwa Belanda telah mulai menginjak-injak kedaulatan rakyat Karo. Kecurigaan Garamata demikian terbukti bahwa maksud kedatangan Belanda ke Tanah Karo adalah menjajah seperti di Langkat. Garamata memastikan bahwa perang pasti terjadi dan karena itu menugaskan beberapa orang ke Alas dan Gayo memperoleh bantuan sebagaimana disepakati setahun lalu.
Batukarang Jatuh
Karena kedudukan musuh di Kabanjahe maka disusun benteng pertahanan terdepan, yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu (Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.
Ultimatum Garamata kepada Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan mendatangkan marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu pengawalnya sudah diperkuat lagi dari sebelumnya.
Patroli-patroli Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil locok dan senapang petuem yang terbatas tidak mendukung untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih mutakhir sedangkan di pihak Simbisa/Urung mempunyai senjata yang kalah jauh dari perlengkapan lawan.
Satu demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan LIngga Julu, meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas tertembak. Sementara benteng pertahanan Kandibata yang dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang, (15/9/1904) dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.
Negeri sebagai tempat menyingkir Garamata dan pasukannya jadi sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting isitri Garamata menderita luka tembak sembari Garamata dan pasukannya menduduki Singgamanik dan sekitarnya.
Liren dan Sekitarnya Jadi Basis Perlawanan
Walaupun pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan.
Dijelaskan bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.
Sebagai daerah penyingkiran semua rencana diatur dari basis ini baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun mengganggu patroli-patroli Belanda yang secara rutin melewati Liren dan daerah sekitarnya.
Perang Gerillya
Garamata dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan motto: “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” (namo=lubuk, aras=arus air yang deras). Artinya sekarang kita kalah, besok kita menang.
Pada kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.
Dalam perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur bersembunyi dalam satu rumah.
Sementara itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari serangan Belanda.
Opportinuteits Beginsiel
Pendudukan Belanda atas Batukarang dengan mengerahkan sebanyak 200 orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat perlawanan walau tidak secara frontal.
Betapapun usaha yang diupayakan untuk menangkap tokoh-tokoh Urung terutama Garamata tidak berhasil sehingga semua rencana Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda pemerintahan selalu terganggu/tidak dapat dijalankan. Maka dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.
Mengingat banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan dan untuk menghindari rakyat korban lebih banyak maka penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel diterima dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan sehingga pada suatu saat dapat bangkit kembali mengusir Belanda.
Ternyata Belanda tidak mentaati tawaran sendiri karena Garamata tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu tempat di perladangan Riung selama 4 tahun.
Sumber : http://gratis45.com/berita/garamata.htm
Kamis, 04 Agustus 2011
kumpulan puisi & sajak
“Angan di Atas Awan”
Andaikan saja
Ku berhenti berharap...
Aku mati
Andaikan saja
Aku merintang mimpi
Aku sepi
Andaikan saja
Aku menepis rindu
Aku kehilangan
Andaikan saja
Aku menutup mata
Aku sunyi
Andaikan saja
Aku pergi
Aku dirundung asa
Andai saja itu cinta
Aku resah
Andaikan saja...
Aku memilih menyusun langkah
Aku terpelihara
Dalam diam aku menulis makna...
Ku berhenti berharap...
Aku mati
Andaikan saja
Aku merintang mimpi
Aku sepi
Andaikan saja
Aku menepis rindu
Aku kehilangan
Andaikan saja
Aku menutup mata
Aku sunyi
Andaikan saja
Aku pergi
Aku dirundung asa
Andai saja itu cinta
Aku resah
Andaikan saja...
Aku memilih menyusun langkah
Aku terpelihara
Dalam diam aku menulis makna...
By: Aqer Kutacane,18 oct 2011
“Ka & Ka”
Dia dan seperti Dia
Yang teduh...
Yang tenang...
Yang terindah
Dia dan hanya Dia
Yang lembut...
Yang penyayang
Yang membelai jiwa
Dia sejuta nirwana
Yang memeluk dalam damai
Yang menata dan menetapkan hati
Yang mengukir sejuta perenungan diri
Dia...
Menyalakan lagi Dia yang hampir padam bombing dan menemani masa sunyi…
Yang teduh...
Yang tenang...
Yang terindah
Dia dan hanya Dia
Yang lembut...
Yang penyayang
Yang membelai jiwa
Dia sejuta nirwana
Yang memeluk dalam damai
Yang menata dan menetapkan hati
Yang mengukir sejuta perenungan diri
Dia...
Menyalakan lagi Dia yang hampir padam bombing dan menemani masa sunyi…
Hadir dalam setiap ruang yang tak bersekat Dia…sungguh Dia
plabuhan penuh cinta,
Dan smoga Dia dapat merasa…!!!
By: Aqer Engkeran,15 oct 2011
Bacalah. . .
Seperti cinta yang bergema dari hati
Rona kemurnian harapan dan kerinduan
Panggilan itu datang dari pintu-pintu langit
Memaku hati berpaling dari mimpi
Jiwa yang terbang,
Memenuhi jalan-jalan keniscayaan
Bercahaya dengan kelepakan sayap-sayap keperakan
Bacalah...
Dengan nama Tuhanmu...
Ruh yang pulang dalam kehangatan
Bacalah...
Dalam kesucian
Keletihan itu tiada lagi
Lalu lebur...berawal dari ketiadaan
Dan...
Bacalah...!
By: Aqer Bambel,25 oct 2011
? ? ? . . .
Adakah…
Waktu kan mewujudkan mimpi
Ketika puing harapan melenting tinggi
Akankah…
Tuhan perkenankan atas pilihan yang tak pasti
Ketika hasrat menjadi kabut dan terbang
Mungkinkah…
Terang dalam gambaran hati
Ketika terombang-ambing di samudera sunyi
Salahkah…
Sesekali…
Ketika seribu kenangan berpendam
Menahan keinginan untuk menisbikannya
Senyata keinginan untuk berlalu
Luruh...
Tuhan aku ingin pulang
Ke tempat dimana ketiadaan adalah segalanya
Ketika pikiran, rasa dan jasad ini berada pada satu titik
Lebur di pelataranMu
By: Aqer Kutacane,10 nov 2011
“PINTU Itu”
Tidak ada seorangpun yang dapat menemani jiwa yang sepi
Tidak juga ada seorangpun yang bisa mengobati jiwa yang lelah
Di luarsana hanyalah bayang-bayang yang tampak nyata, tapi...tiada jawaban
Selalu ada pintu yang terbuka ketika seratus pintu yang lain telah tertutup
Dan ada sebuah pintu yang tak pernah tertutup...
Hanya saja kita tidak datang kesana untuk masuk
Karena buta
Karena tuli
Karena bisu
Karena lumpuh
.....masih juga tak dapat masuk.
Kalau saja kita melihat dengan mata hati,
Mendengar dengan jiwa,
Berbicara dengan hati,
Dan melangkah dengan kata hati...
Tak perlu meminta, kita sudah berada di dalamnya
Tidak juga ada seorangpun yang bisa mengobati jiwa yang lelah
Di luar
Selalu ada pintu yang terbuka ketika seratus pintu yang lain telah tertutup
Dan ada sebuah pintu yang tak pernah tertutup...
Hanya saja kita tidak datang ke
Karena buta
Karena tuli
Karena bisu
Karena lumpuh
.....masih juga tak dapat masuk.
Kalau saja kita melihat dengan mata hati,
Mendengar dengan jiwa,
Berbicara dengan hati,
Dan melangkah dengan kata hati...
Tak perlu meminta, kita sudah berada di dalamnya
By: Aqer Engkeran,29 sep 2011
”Pejuang Rindu”
Dengan sayap keabadian
Rinduku di ujung awan
Bergelombang dalam resah kering
Kutahu…,
Engkau datang sebelum aku
Sebelum aku mencariMu
Tertulis di Sidratul Munthaha
Ketika ku berjanji untuk selalu setia
Barsaksi aku…atasMu
Bahkan sebelum Kau tiupkan Ruh yang nyata
Izinkan aku berbakti dalam ketidaksempurnaan ini,
Ketika debu-debu dunia membalut warnaMu
Sehingga harus ku berusaha sekuat hati
Menjadi pejuang sejati…setiap waktu
Kau pada mulanya
Membentuk cerita kehidupan untuk kujalani
Tertatih-tatih sejak dari buaian duniawi
Sucikan aku ketika kita berjumpa lagi
Sampai di penghujung malam,
Terimalah aku…meskipun tak pernah ada diriku
Karena,
Aku telah menemui Mu sebelum Kau menjumpai Ku,
By: Aqer Engkeran,17 sep 2011
“M A K N A”
Ketika kedua sisi hatiku menolak dan menerima
Di batas atas,
Dan di batas bawah keinginan untuk berubah
Ketika aku mencoba memahami
Semuanya buyar seperti debu-debu
Segalanya berpendar seperti kembang api
Bersinar sebentar saja
Akhirnya aku tetap dalam tanda tanya besar
Kelelahan dan nestapa
Suatu ketika, ketika kesadaran menyeruak
Dalam diamku yang panjang dan hening
Aku mulai berhenti untuk mencoba memahami segala sesuatu
Aku juga berhenti mencari apa-apa di luar diriku…
Pada akhirnya hanya ke dalam diriku…
Ternyata satu demi satu pemahaman itu hadir
Ungkapan…ungkapkan sejuta makna pencarian
Saat hadir telaah diri…
Aku beranjak dewasa
Setelah aku berhenti
Setelah aku berdiam diri
Cahaya mulai menyinari hatiku
By : Aqer Kutacane,10 nop2011
“SESAL”
Jejak-jejak asa..
Terpuruk dalam sunyi sendiri
Berbantahan dengan harap dan ketiadaan
Bulir hasrat berbuah fatamorgana
Andai bisa disemai kembali...?
Suatu hari, ketika kedewasaan jiwa memayungi
Ini semua menjadi impian kosong di dunia
Lalu...
Mulailah kepala ini tegak dengan hati menunduk
Semuanya hidup dalam kenyataan yang damai
Cermin kalbu..
Tak berdinding ruang dan waktu
Dimana benih kebaikkan, cinta dan kepasrahan
bersemayam......
Ketika itu terjadi
Sang diri, lenyap di udara
Dan prisma ketuhanan
Membiaskan sejuta pelangi surga,....seutuhnya
Nyata......
Terpuruk dalam sunyi sendiri
Berbantahan dengan harap dan ketiadaan
Bulir hasrat berbuah fatamorgana
Andai bisa disemai kembali...?
Suatu hari, ketika kedewasaan jiwa memayungi
Ini semua menjadi impian kosong di dunia
Lalu...
Mulailah kepala ini tegak dengan hati menunduk
Semuanya hidup dalam kenyataan yang damai
Cermin kalbu..
Tak berdinding ruang dan waktu
Dimana benih kebaikkan, cinta dan kepasrahan
bersemayam......
Ketika itu terjadi
Sang diri, lenyap di udara
Dan prisma ketuhanan
Membiaskan sejuta pelangi surga,....seutuhnya
Nyata......
By: Aqer Engkeran,7 nov 2011
“Z A H R A”
Ya…karena Dia seorang perempuan
Pejuang yang terlahir ke dunia dari rahim Ibunda yang juga perempuan
Ibunda dan Ayahanda menitipkan cahaya di hati
Untuk dibagikan pada jiwa2, anak-anak dan keluarga nya
Juga siapa saja yang hidup bersamanya dan bejalan berdampingan di sisi nya
Dia perempuan, bukan karena ingin hadir sebagai perempuan
Tetapi karena amanah yang membawanya ke dunia ini
Menjelma dari tulang rusuk lelaki,
Terkadang Dia rapuh atau kaku
Terkadang juga liat dan lentur
Takdirnya menemani pemimpinya mengarungi samudera kehidupan
Yang kadang beriak, kadang tenang
Berangin, bersalju dan diselimuti awan
Belajar melangkahkan kaki dengan keanggunan seorang pendamping sejati
Dia, dikelilingi ruang dan waktu
Berputar untuk dirinya dan berputar untuk semestanya
Orbitnya menahan gravitasi membanting perasaan yang halus dan lembut
Di pundak nya terasa beratnya beban kehidupan ini
Karena dunia mulai tidak bahagia
Karena sebagian jiwa-jiwa yang menghinakan keberadaanya...(part I)
Dia mulai ada di setiap barisan sekumpulan lelaki
Bahkan terkadang menimbulkan resah, iri hati, keresahan dan pelecehan
Tetapi Dia perempuan dengan seribu kekerasan hati
Bersaing sekuat hati juga untuk dapat mengais rejeki
Dimanapun Dia berada senantiasa dalam dilema
Karena Dia perempuan yang berusaha mengangkat kepala tanpa kesombongan
Membuang keangkuhan karena kepintaran, ketegasan dan kecerdikan
Dia perempuan..,
Terkadang letih dan gelisah
Memikirkan kemana kaki melangkah
Memikirkan apa yang esok harus diperbuat
Dan apalagi yang harus dipertaruhkan
Agar semua yang berkepentingan denganya memahami
Meskipun Dia terlahir perempuan
Dia bukan perempuan biasa
Dia istimewa...
Dengan kelebihan dan kekuranganya
Dia adalah bagian dari harta dunia
Dialah aset bagi generasi penerus setelah Dia
Meski lemah, Dia mampu bergerak dalam arah yang berbeda-beda...(part II)
Dia juga mampu melakukan berbagai hal dalam satu waktu
Dia...begitu berarti
Karena Dia seorang perempuan
Karunia kecantikan dan keluhuran budi diemban sampai batas titik tujuan
Menggapai cinta sejati yang dicoba bagikan dengan senyuman,
Persahabatan, kelembutan, air mata, kerendahan hati dan ketegaran jiwa
Dia...tetaplah seorang perempuan
Sebagai seorang Ibu
Seorang kekasih
Seorang sahabat dan juga seorang pejuang kehidupan
Langganan:
Komentar (Atom)